Alasan Sebenarnya Mengapa Wanita Memilih Berkarir

Benar apa kata orang bijak jaman dulu bahwa surga itu ada di bawah kaki sang ibu. Oleh karena itu ada dalam pelajaran agama bahwa kedudukan seorang wanita jauh melebihi kedudukan seorang pria, walau bagaimana pun keadaan si pria itu. Apakah pria itu seorang pekerja keras atau milyader, yang pasti itu takkan membuat pria melebihi kemuliaan dan kedudukan seorang wanita dalam pandangan manusia lainnya.

Ini bukanlah ungkapan ngawur mengapa tulisan semacam ini membicarakan hal-hal yang ada kaitannya dengan wanita dibicarakan disini. Dan mengapa pula para wanita akan selalu mendapat tempat terhormat di dalam agama apapun karena memang wanita mempunyai beban hidup yang sungguh berat sejak lahir hingga dewasa dibandingkan pria. Banyak sekali kita jumpai wanita yang sedari masa kanak-kanak sudah dianggap makhluk lemah jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Sehingga sudah bisa kita duga, karena kelemahannya itulah para wanita seringkali bahkan kecenderungannya mendapat tempat yang tidak semestinya untuk mereka. Mereka seringkali dicap sebagai makhluk lemah dan tempat yang layak bagi mereka selalu ada di belakang (baca:dapur) karena wanita dianggap tidak mampu berbuat sesuatu apa-apa untuk dirinya maupun orang lain. Meskipun demikian, sebenarnya itu semua tak mengurangi sedikitpun kodrat mulianya seorang wanita yang telah dianugrahkan Tuhan untuk para wanita.

Namun, jika melihat adanya fenomena di sekitar kita, kebanyakan wanita lebih memilih untuk beraktifitas seharian penuh di luar rumah sebagai wanita karir, dengan berbagai macam alasan mereka kemukakan, misalnya karena hanya dengan bekerja lah wanita akan merasa lebih dihargai. Kita semua mengerti bahwa kebanyakan orang yang lebih dihargai adalah orang yang memiliki jumlah uang yang lebih banyak alias orang kaya. Bukan hanya kecantikan saja. Akan tetapi bukti telah menunjukkan seperti itu meskipun misalkan mereka itu cantik jelita, tapi ketika mereka tidak bekerja sebagai wanita karir, maka keadaan wanita itu tetap saja akan selalu dianggap sama saja. Wanita yang hanya bisa menyusahkan pria.

Dengan alasan inilah tentu para wanita yang berpendidikan lumayan akan berinisiatif lebih giat lagi dalam mencari penghasilan seperti suami mereka, demi adanya rasa kebanggaan pada diri mereka. Selain karena faktor keuangan, banyak pula  wanita dengan sengaja keluar dari rumah hanya karena wanita itu ingin merasakan kehidupan di luar rumah. Ada juga karena ingin dihargai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tingkat derajat sama dan ingin diperlakukan sama dengan pria. Walaupun kadangkala mereka sedikit melupakan eksistensinya sebagai manusia bahwa dari diri wanitalah lahirnya keturunan dan sebagai pengasuh bagi anak-anak mereka.

Berdasarkan beberapa keadaan yang dipaparkan di atas, sudah barang tentu membuat beberapa hal yang saya tulis di bawah ini adalah alasan yang membuat wanita enggan tuk selalu berada di dalam rumahnya sendiri.

Pertama, mereka seperti merasakan stigma masyarakat yang melekat pada diri mereka yang selalu menganggap bahwa mereka sebagai sesosok pribadi yang harus mampu meletakkan posisi mereka hanya untuk di dapur, di sumur dan di kasur. Dengan perkataan lain, manakala ada seorang ibu yang melahirkan anak berjenis kelamin perempuan, maka seolah-olah istri ini ditakdirkan untuk slalu berada di dapur untuk mempersiapkan hidangan bagi suami, di sumur mulai dari segala macam aktivitas cuci-mencuci yang tak ada habisnya termasuk juga memandikan anak serta merawat perabotan rumah tangganya yang mereka miliki. Dan yang tidak kalah penting yang tidak dapat dinafikan dari status seorang wanita adalah bahwa mereka bagaimana pun juga wanita harus selalu bisa menemani tidur suaminya di kasur. Jadi tak pantaslah kiranya jika seorang wanita harus bekerja mandiri di luar rumah seorang diri, karena hal itu bisa saja dapat dianggap melangar aturan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Padahal ketika seorang wanita berkarir, banyak pula dari mereka ini yang masih menjalankan aktivitasnya mengurus rumah tangga dan menyusui bagi anak-anak mereka.

Kedua, selain masalah 3-UR (1 dapur,2 sumur,3 kasur). Wanita sangat identik dengan yang namanya pekerja tidak kenal waktu layaknya seorang pembantu rumah tangga. Mereka bekerja tidak tahu lagi kapan dimulai, dari pukul berapa sampai pukul berapa, dan tidak tahu kapan saatnya untuk mengakhiri pekerjaannya hingga selesai. Bayangkan saja, pada saat para istri ini memilih hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, maka mereka mesti bisa mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari bangun pagi hanya untuk mempersiapkan semua kebutuhan sarapan pagi keluarganya, setelah itu membersihkan isi rumah yang mungkin tidaklah kecil ukurannya mulai dari halaman depan, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, halaman belakang, dapur, dan juga harus mencuci semua pakaian yang sudah bertumpuk berhari-hari di sumur/kamar mandi. Seolah para wanita ini hanya sebagai pembantu yang sedang bekerja penuh waktu di rumah kita tanpa mengenal adanya kompensasi barang sedikitpun dan tanpa mengenal istirahat. Seandainya saja mereka menginginkan berhenti sejenak untuk istirahat, tentu harus ada anggota keluarga lainnya yang dapat menggatikan posisinya.

Pagi-pagi sudah harus mengurus segalanya di rumah, dan jika malam hari ketika sang suami sudah ada di rumah pun harus mendapatkan segala perhatian dan semua kehangatan darinya. Sungguh sangat berat beban dan tugas sebagai seorang ibu dalam rumah tangga. Walaupun demikian beratnya mereka masih saja selalu dianggap lemah dan akan dikucilkan oleh pria maupun wanita lainnya yang sudah bekerja di luar rumah sebagai wanita karir. Para wanita atau ibu yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya hanya untuk berada dan bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga seolah-olah pasti menempati kedudukan yang lebih rendah daripada mereka yang bekerja di kantor-kantor. Para wanita pekerja kantoran dapat berpakaian serba rapi, wangi dan dengan pakaian yang mahal, sedangkan wanita yang biasa di rumah tidak memiliki kesempatan dan cukup ada waktu lagi baginya untuk sekedar berdandan dan merawat diri supaya terlihat cantik. Apalagi jika harus selalu berpakaian rapi dan wangi seperti pegawai kantoran yang bekerja di gedung bertingkat.

Ketiga, para wanita ini kebanyakan sebagai ibu rumah tangga akan selalu terpaksa menerima keadaan atau kondisi bagaimanapun terkait keuangan dalam rumah tangganya. Jika saja sang suami dapat memiliki penghasilan lumayan berlebih, maka sudah barang tentu kehidupan istri dengan sendirinya akan sedikit ringan lantaran para wanita ini bisa mendapatkan sedikit bantuan dari pembantu atau asisten dalam rumah tangga. Tentu saja tidak semua pekerjaan dapat dikerjakan sendiri lantaran ada sosok lain yang membantu yang dapat meringankan bebannya dalam rumah tangga jika ada pembantu. Ini akan menjadi lain jika bagi mereka yang suaminya hidup sederhana dan berpenghasilan pas-pasan? Bisa dibayangkan, para istri akan menerima segala konsekuensi apapun apa adanya tanpa bisa menawar dari kondisi keuangan mereka yang memang sudah minim. Mereka tidak pernah bisa untuk menolak segala seuatunya apapun yang akan terjadi, sedikit atau banyak penghasilan dari sang suami maka mereka mau tidak mau harus menerima itu dengan syukur ikhlas apa adanya. Walopun dalam hati mereka selalu menggerutu dengan kondisi yang masih seperti itu. "Gajinya kok cuman ada segini aja sih? Inikan nggak bakal cukup buat beli ini itu, yah?" Mau bagaimana lagi jika memang keadaannya seperti itu. Sekali lagi bagi wanita rumahan akan selalu terpaksa untuk menerima konsekuensi terhadap kondisi keuangan suaminya sendiri.

Keempat, dan yang tidak dapat ditentang adalah jika seorang wanita terus ada di rumah, seberapa besar pekerjaan yang sudah dilakukan hasil pekerjaan mereka tidak pernah dilihat oleh mata sang suami. Acapkali sang suami seringkali menganggap remeh-temeh pekerjaan yang sudah dikerjakan istrinya karena suami sibuk mencari uang di luar rumah. Mereka menganggap bila adanya istri di rumah terus, semua pekerjaan akan dikerjakan istri dan dianggap selesai semuanya. Tanpa bisa merasakan betapa sangat beratnya mengurus dan memelihara rumah tangga serta anak-anak di rumah. Apalagi jika anak-anak ternyata butuh perhatian lebih karena masih berusia balita maka tugas sang wanita akan bertambah berlipat-lipat.

Akan berbeda kalau yang bekerja adalah para wanita, maka suami pun tidak bisa seenaknya sendiri merendahkan istrinya karena mereka memiliki jumlah uang yang cukup lumayan di tangan. Para istri bisa saja berdandan yang cantik dan berbusana yang rapi tanpa harus minta uang pada suami. Bahkan lantaran kecantikan dan kerapian sang istri inilah, justru suami akan menjadi lebih khawatir pada istrinya jika ada laki-laki lain yang akan tergoda untuk menggoda istrinya di luar sana. Amat wajar dan teramat wajar memang, jika sang suami menolak ketika tahu istrinya ingin bekerja di luar, selain itu ia harus tetap mengurus dan merawat rumah tangga serta mendidik anak-anak di rumah sendirian. Selain karena itu, yang tidak bisa dipungkiri adalah ketika mereka bekerja sebagai wanita karir di luar rumah adalah tentu saja para istri akan menjaga penampilan dan sudah barang tentu akan menjadi sangat menggoda karena mereka mampu mencukupi tiap kebutuhan fisik serta batinnya secara mandiri tanpa perlu bantuan suami. Mereka dapat membeli apapun yang disukai mulai dari peralatan make-up, aksesoris, baju yang mahal. Memilih aktivitas yang membuat telihat lebih bugar dengan mendaftar ke gym dan tentu para wanita ini boleh memilih beraneka ragam jenis pakaian sesuai selera mereka ketika beraktivitas di luar sana. Bagaimana dengan kondisi wanita rumahan yang sehari-hari sibuk di rumah? Tentu saja kondisinya akan berbeda bukan dengan wanita kantoran?

Ada beberapa konsekuensi yang diterima baik langsung ataupun tidak langsung yang telah disebutkan di atas, jadi amatlah wajar jikalau para wanita lebih memilih untuk mengejar karir untuk kebanggan dan untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka. Dampaknya adalah keluarga mereka jadi retak, bahkan bukan tidak mungkin akan berujung pada perceraian. Apalagi jika sang suami tidak dapat menerima keadaan istrinya yang mesti berkiprah seperti layaknya para pria di luar sana. Tapi buat sang istri atau wanita, mereka juga tidak ingin dianggap sebagai orang yang hanya bisa menyusahkan suami mereka lantaran tidak menghasilkan apa-apa.

Maka sudah sepatutnya jika para suami dapat mengerti keadaan istrinya dan dapat mencukupi kebutuhan dan keperluan para istri dalam rumah tangga karena beratnya beban pekerjaan sebagai istri yang mereka harus sandang ketika menjadi seorang yang dipanggil "ibu" yang selalu mengurus segala keperluan rumah tangga dan anak-anak mereka. Hendaknya sang suami tidak diamkan para ibu untuk menanggung kesedihan sendiri lantaran beban pekerjaan mereka tidak pernah dihargai dan seolah keringat mereka yang mengucur seperti tidak memberi arti apa-apa bagi kehidupan dalam rumah tangganya. Apalagi jika memikirkan bagaimana beban berat untuk memenuhi semua kebutuhan ekonomi keluarga.

Oleh sebab itu, ada baiknya jangan pernah menganggap remeh pekerjaan ibu dalam rumah tangga, sebab pekerjaan mereka lebih berat dibandingkan pekerjaan pria dalam mencari nafkah. Walaupun para pria sedang ada di rumah ketika malam hari tetap saja ibu yang diharuskan mengurus dan merawat anak-anaknya tanpa kenal lelah sedikitpun. Memberikan semua perhatianyang dia punya untuk anak-anak mereka meskipun sibuknya teramat sangat dalam bekerja. Wajarlah dan pria atau suami tidaklah perlu cemburu pada istrinya ketika Tuhan menganugerahkan dan melebihkan wanita sebagai sesosok yang mulia di mata Tuhan. Karena peran ibu dalam rumah tangga menempati kedudukan yang lebih tinggi di atas kaum pria manapun di dunia. Ini juga sebagai pengingat bahwa hanya wanita yang mampu mengemban fitrahnya sebagai istri yang diidamkan dan ibu untuk anak-anak yang penuh kasih sayang.
0 Komentar untuk "Alasan Sebenarnya Mengapa Wanita Memilih Berkarir"

Back To Top